Apakah Orang Islam Boleh Mengucapkan Selamat Hari Waisak pada Umat Budha?

waisak
ilustrasi waisak (foto : Pixabay)

KLIKKORAN.COM – Artikel ini membahas rangkuman terkait ucapan selamat kepada agama lain.

Seperti yang di ketahui bahwa perayaan Waisak di peringati oleh umat yang beragama selain Islam, yaitu Budha.

Apakah Orang Islam Boleh Mengucapkan Selamat Hari Waisak Pada Umat Budha pada 16 Mei 2022?

Baca artikel ini sampai selesai untuk mengetahui beberapa rangkuman terkait pendapat yang menjabarkannya.

Kemungkinan ada perbedaan, namun sumber yang mengatakannya dapat kamu telaah sendiri di bawah ini.

Ucapan Waisak oleh Umat Islam

Prof. KH. Quraish Shihab, ayah dari Najwa Shihab mengutarakan pendapatnya yang dikutip oleh radarbangsa.

Ucapan selamat tersebut hanya berupa apresiasi terhadap perayaan yang sedang di lakukan hari besar umat lainnya.

Baca juga:   Happy New Year 2022: Ucapan Selamat Tahun Baru Bahasa Inggris Penuh Doa dan Artinya

“Sambil bergembira, mari bergembira. Saat dia sedih, marilah kita berkabung,” ujarnya pada 27 Mei 2021 lalu.

Penulis kitab Tafsir Al-Misbah itu, mengungkapkan bahwa orang pertama yang mengucapkan ‘Selamat Natal’ adalah Nabi Isa AS.

“Sampai kita merayakan kehadirannya dengan mengucapkan selamat ulang tahun. Jadi sebenarnya tidak ada masalah,” jelasnya.

Penjelasan terkait juga tertuang dalam AlQuran Q.S al-Mumtahanah ayat 8, terkait Allah menyukai orang yang adil.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (juga) mengusir kamu dari negaramu.”

Sementara menurut kitab Ahkam Ahlu Dzimmah yang di tulis oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah, ada perbedaan pendapat.

Baca juga:   50+ Ucapan dan Twibbon Hari Lahan Basah Sedunia: Qoutes Posting Media Sosial IG, WA, FB

“Adapun memberi ucapan selamat dengan syiar khusus untuk orang kafir itu disepakati keharamannya,” (islamqa.info)

Hal tersebut di dasarkan pada sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Begitu pula dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Iqtidha As-Syiratal Mustaqim Mukholafatul Ahlil Jahim.